Karya seni, identik dengan keindahan abadi yang akan dikagumi sepangjang masa. Bahkan bukan hanya keindahan yang tersimpan di dalamnya, tapi mungkin juga puluhan misteri yang sangat menarik untuk dibongkar, atau misteri itu sendiri tetap akan menjadi pertanyaan beribu-ribu tahun sesudah senimannya meninggal. 
Seperti halnya dengan Vincent Van Gogh, pelukis terkenal yang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya sedangkan karyanya sendiri baru dikenal orang lama setelah ia tiada. Menilai sebuah karya seni memang bukanlah hal yang mudah, perlu dari sekedar pengetahuan tentang karya itu sendiri dan juga sense yang akan membuat anda bisa masuk untuk menjelajahinya.
Bagi saya sendiri, melihat lukisan-lukisan Van Gogh bagaikan memasuki sebuah dunia dongen yang tenang. Sungguh sebuah maha karya yang menakjubkan.
Tetapi kemashuran karya-karyanya tidak seindah hidupnya sendiri, tingkat emosi yang susah diklendalikan dalam dirinya membuatnya sangat putus asa hingga dia mengiris telinga kirinya sendiri. Not a happy ending .
Bagi pelukis muda, membuat rangkaian titik dan garis lurus sempurna mungkin akan terdengar sangat membusankan. Kebanyakan dari mereka pasti ingin segera memulai menghasilkan sebuah lukisan daripada hanya membuat berbagai titik dan garis. Tapi titik dan garis yang mereka buat pertama kali akan menunjukkan bagaimana emosi mereka dan bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan emosi pada saat pembuatan karyanya. Pada awalnya, hal remeh ini memang tak mengasikkan anda akan menyadarinya seiring dengan berjalannya waktu. Percayalah membuat rangkaian titik maupun garis sungguh bisa menetralkan emosi anda. Misalkan saja anda sedang merasa sedih karena ditinggalkan oleh seorang kekasih, ambil sebuah kertas dan pensil kemudian cobalah membuat garis lurus di atas kertas anda. Hal ini tidak akan terasa saat anda melakukannya, tapi keesokan harinya saat anda bangun dari tidur kemudian menatap gambar itu lagi. Pasti anda akan merasa lebih baik, bisa saja dalam benak anda akan muncul sebuah ide untuk memajang gambar itu dan memberinya sebuah judul 'Garis saat aku menangis'. Kedengaran konyol memang, tapi bisa memberi anda energi baru untuk membuat sebuah karya baru anda.
Inspired by Mr. Topik (my beloved art teacher)

Myspace Weekend Comments



